Rabu, 30 Maret 2016
Gratis Download ICD-10-CM FYI2016 Lengkap
18.40
Gratis Download ICD-10-CM FYI2016 Lengkap
Helo sobat pada postingan sebelumnya saya mengupload ebook ICD-10 CM 2015 kalau mau liat klik disini dan sekarang sama saya juga upload ICD-10-CM FYI2016 tapi versinya berbeda karena ini untuk tahun 2016, fitur dan kelebihannya sudah saya jelaskan di postingan sebelumnya kayaknya gak usah banyak basa basi deh.langsung comot aja yah sobat . Seperti biasa untuk download tinggal klik tombol downloanya.kalau ada masalah download jangan sungkan hubungi saya.
![]() |
| Gratis Download ICD-10-CM FYI2016 Lengkap |
Gratis Download ICD-10-CM FYI2015 Lengkap
18.15
Gratis Download ICD-10-CM FYI2015 Lengkap
![]() |
| Gratis Download ICD-10-CM FYI2015 Lengkap |
Kali ini sobat akan download ebook Gratis Download ICD-10-CM FYI2015 Lengkap dengan berbagai versi yaitu TXT,PDF,XML. Kelebihan dari ICD-10 ini selain karena lengkap tapi juga disertai hyperlink atau daftar isi sehingga memudahkan dalam pencarian jadi gak repot-repot harus scrol ribuan halaman . cukup klik di daftar isi maka otomatis akan langsung menuju halaman,Bayangkan ICD-10 setebal itu dalam satu buku tentu merepotkan bila harus dibuka,tapi tak usah khawatir karena ICD-10 versi ini dibagi terpisah menjadi 5 file yaitu:
- Drug ICD-10 CM
- E-index ICD-10 CM
- Index ICD-10 CM
- Neoplasm ICD-10 CM
- Tabular ICD-10 CM
1. ICD10CM_FY2015_code_descriptions
2. ICD-10-CM FYI2015 format PDF
3. ICD-10-CM FYI2015 format XML
Semoga Bermanfaat jika anda punya masalah download jangan sungkan hubungi saya
Gratis Download ICD-10-CM TABULAR LIST of DISEASES and INJURIES
17.52
Gratis Download ICD-10-CM TABULAR LIST of DISEASES and INJURIES
Mungkin sobat bisa jadikan sebagai koleksi buka ICD nya dan kali ini sobat bisa download ebook Grats Download ICD-10-CM TABULAR LIST of DISEASES and INJURIES . ebook ini dalam format PDF yang terdiri dari 2038 halaman.
Untuk Mendownloadnya silahkan klik tombol download
Senin, 28 Maret 2016
Gratis download ICD 9 CM 2007 PDF lengkap
17.38
Gratis download ICD 9 CM 2007 PDF Lengkap
ICD 9 CM atau International Classification of Diseases,Ninth Revision,Clinical Modification , Adalah Daftar kode yang terkait dengan Diagnosa dan Prosedur yang tercatat dalam hubungan pelayanan kesehatan di rumah sakit terhadap pasien .kode -kode tersebut digunakan untuk tujuan Diagnostik , Penagihan dan Pelaporan,Informasi yang didapat mencakup symptoms,patient complaint atau keluhan , causes of injury penyebab cedera , dan mental disorders atau gangguan mental .
Dan anda bisa mendownload buku ICD 9 CM 2007 lengkap dalam bentuk PDF jadi untuk membuka buku ini di butuhkan aplikasi PDF reader anda bisa mendownloadnya yang saya sarankan adalah FOXIT READER karena lebih ringan. Saya gambarkan sedikit apa yang yang ada dalam buku ini.
Dan anda bisa mendownload buku ICD 9 CM 2007 lengkap dalam bentuk PDF jadi untuk membuka buku ini di butuhkan aplikasi PDF reader anda bisa mendownloadnya yang saya sarankan adalah FOXIT READER karena lebih ringan. Saya gambarkan sedikit apa yang yang ada dalam buku ini.
1. Judul : ICD-9-CM Classification of Procedures 2. Halaman : 458 halaman3. Versi : Ebook PDF di lengkapi navigasi Daftar isi ( sehingga anda tinggal klik daftar isi dan otomatis langsung menuju halaman yang diklik di daftar isi)
4. Isi : A. CONVENTIONS USED IN THE TABULAR LISTB. TABLE OF CONTENTSC. TABULAR LISTD. INDEX TO PROCEDURES
UNTUK DOWNLOAD KLIK TOMBOL DOWNLOAD DIBAWAH INI
Selasa, 22 Maret 2016
Free atau Gratis Download ICD 10 Edisi 2010 Volume 2
16.23
Free atau Gratis Download ICD 10 Edisi 2010 Volume 2
Silahkan download ICD 10 Tent Revision volume 2 2010 Edition Lengkap . File yang anda download ini dalam bentuk PDF. klik DISINI
Free atau Gratis Download ICD 10 Inggris - Indonesia xls
15.46
Free atau Gratis Download ICD 10 Inggris - Indonesia xls
Sobat bisa mendowload secara gratis ICD 10 dua bahasa yaitu Inggris dan Indonesia, ICD 10 ini di buat dalam tipe file xls atau file yang dapat di jalankan di Microsoft excel.ICD 10 ini hanya sekedar tabel indeks dari A-Z . Semoga bermanfaat.
Silahkan Download ICD 10 Inggris dan Indonesia DISINI
Sabtu, 13 Februari 2016
Kaidah Koding Kode ICD B20-B24 HIV disease
03.45
Seorang pasien dengan sistem kekebalan tubuh akibat penyakit HIV kadang-kadang memerlukan pengobatan lebih dari satu penyakit selama episode perawatan yang sama, misalnya mikobakteri dan infeksi sitomegalovirus. Kategori dan subkategori disediakan di blok kode ICD B20-B24 HIV disease untuk penyakit HIV dengan berbagai penyakit penyerta lainnya. Kode subkategori yang sesuai untuk kondisi utama dipilih oleh dokter.
Jika kondisi utama dicatat sebagai penyakit HIV dengan beberapa penyakit penyerta, kode ICD yang dipilih adalah kode ICD B20-B22 dengan subkategori 7 (mutiple). Sedangkan kode ICD B22.7 harus digunakan bila terdapat kondisi dua atau lebih dari kategori kode ICD B20-B22. Kode tambahan dalam blok B20-B24 dapat digunakan, jika diinginkan untuk menentukan kondisi individu yang tercatat.
Pada kasus yang jarang terjadi ketika kondisi yang berhubungan dengan jelas mendahului infeksi HIV, kombinasi ini seharusnya tidak boleh dikode dan aturan seleksi harus diikuti.
Contoh 1
Kondisi utama : HIV disease dengan Kaposi's sarcoma
Kondisi lain : -
Kode ICD : HIV disease resulting in Kaposi's sarcoma (B21.0).
Contoh 2
Kondisi utama : Toxoplasmosis dan cryptococcosis pada pasien HIV
Kode ICD : HIV disease resulting in multiple infections (B20.7). Dapat digunakan sebagai kode tambahan kondisi penyertanya : B20.8 (HIV disease resulting in other infectious and parasitic diseases), B20.5 (HIV disease resulting in other mycoses).
Contoh 3
Kondisi utama : HIV disease dengan Pneumocystis carinii pneumonia, Burkitt's lymphoma dan oral candidiasis
Kondisi lain : -
Kode ICD : HIV disease resulting in multiple diseases (B22.7). Dapat digunakan sebagai kode tambahan kondisi penyertanya : B20.6 (HIV disease resulting in Pneumocystis carinii pneumonia), B21.1 (HIV disease resulting in Burkitt's lymphoma), B20.4 (HIV disease resulting in candidiasis).
Subkategori pada kode ICD B20-B23, kode empat karakter hanya sebagai pilihan untuk negara yang menggunakan versi empat karakter ICD-10. Di mana jika tidak menggunakan pilihan subkategori karakter keempat, kode dari dalam klasifikasi tempat lain harus digunakan sebagai kode tambahan untuk mengidentifikasi kondisi yang spesifik.
Dalam contoh 1 di atas, kondisi utama dikodekan B21 (penyakit HIV yang mengakibatkan neoplasma ganas). Kode C46.9 (Kaposi's sarcoma) digunakan sebagai kode tambahan.
Dalam Contoh 2, kondisi utama dikodekan ke B20 (penyakit HIV yang mengakibatkan penyakit infeksi dan parasit). Kode B58.9 (Toksoplasmosis, unspecified) dan B45.9 (Kriptokokosis, unspecified) digunakan sebagai kode tambahan.
Ketentuan diatas berdasarkan petunjuk manual ICD-10 tentang Rules and guidelines for mortality and morbidity coding.
Sekian, Semoga bermangfangat.
http://www.hakayuci.com/2015/04/kaidah-koding-b20-b24-hiv-disease.html
Jika kondisi utama dicatat sebagai penyakit HIV dengan beberapa penyakit penyerta, kode ICD yang dipilih adalah kode ICD B20-B22 dengan subkategori 7 (mutiple). Sedangkan kode ICD B22.7 harus digunakan bila terdapat kondisi dua atau lebih dari kategori kode ICD B20-B22. Kode tambahan dalam blok B20-B24 dapat digunakan, jika diinginkan untuk menentukan kondisi individu yang tercatat.
Pada kasus yang jarang terjadi ketika kondisi yang berhubungan dengan jelas mendahului infeksi HIV, kombinasi ini seharusnya tidak boleh dikode dan aturan seleksi harus diikuti.
Contoh 1
Kondisi utama : HIV disease dengan Kaposi's sarcoma
Kondisi lain : -
Kode ICD : HIV disease resulting in Kaposi's sarcoma (B21.0).
Contoh 2
Kondisi utama : Toxoplasmosis dan cryptococcosis pada pasien HIV
Kode ICD : HIV disease resulting in multiple infections (B20.7). Dapat digunakan sebagai kode tambahan kondisi penyertanya : B20.8 (HIV disease resulting in other infectious and parasitic diseases), B20.5 (HIV disease resulting in other mycoses).
Contoh 3
Kondisi utama : HIV disease dengan Pneumocystis carinii pneumonia, Burkitt's lymphoma dan oral candidiasis
Kondisi lain : -
Kode ICD : HIV disease resulting in multiple diseases (B22.7). Dapat digunakan sebagai kode tambahan kondisi penyertanya : B20.6 (HIV disease resulting in Pneumocystis carinii pneumonia), B21.1 (HIV disease resulting in Burkitt's lymphoma), B20.4 (HIV disease resulting in candidiasis).
Kaidah Koding Kode ICD B20-B24 HIV disease
Dalam contoh 1 di atas, kondisi utama dikodekan B21 (penyakit HIV yang mengakibatkan neoplasma ganas). Kode C46.9 (Kaposi's sarcoma) digunakan sebagai kode tambahan.
Dalam Contoh 2, kondisi utama dikodekan ke B20 (penyakit HIV yang mengakibatkan penyakit infeksi dan parasit). Kode B58.9 (Toksoplasmosis, unspecified) dan B45.9 (Kriptokokosis, unspecified) digunakan sebagai kode tambahan.
Ketentuan diatas berdasarkan petunjuk manual ICD-10 tentang Rules and guidelines for mortality and morbidity coding.
Sekian, Semoga bermangfangat.
http://www.hakayuci.com/2015/04/kaidah-koding-b20-b24-hiv-disease.html
Jumat, 30 Oktober 2015
Video Tutorial Cara membuat Grafik Barber Johnson
09.42
Video Tutorial Cara membuat Grafik Barber Johnson
Video terdiri dari 4 bagian :
Pada video Part 1 : Membuat Tabel https://www.youtube.com/watch?v=SpDu5WgkCp4
Pada video Part 2 : Membuat Grafik https://www.youtube.com/watch?v=6IKGEOZiO6s
Pada Video Part 3 : membuat Garis daerah efisiensi https://www.youtube.com/watch?v=Lo6BbNKocyQ
Pada video Part 1 : Membuat Tabel https://www.youtube.com/watch?v=SpDu5WgkCp4
Pada video Part 2 : Membuat Grafik https://www.youtube.com/watch?v=6IKGEOZiO6s
Pada Video Part 3 : membuat Garis daerah efisiensi https://www.youtube.com/watch?v=Lo6BbNKocyQ
Pada video part 4 : Menambahkan fitur macro pada excel https://www.youtube.com/watch?v=PhR2tWA9lyw
Download Buku Pedoman Rekam Medis
09.00
Download BUKU PEDOMAN REKAM MEDIS
Berikut daftar isi dari buku pedoman rekam medis :
SK Direktur penetapan Buku
Pedoman Penyelenggaraan Rekam MedisKata
Pengantar
Daftar Isi
BAB I
: PENDAHULUAN
1.
Pengertian Rekam
Medis
2.
Kegunaan Rekam
Medis
3.
Sifat Rekam Medis
4.
Tujuan
Penyelenggaraan Rekam Medis
5.
Isi Rekam Medis
BAB II
: PEMBERIAN
IDENTITAS PASIEN
1.
Pemberian Nomor
Rekam Medis
2.
Pemberian
Identitas Pasien Dawasa
3.
Perawatan dan
Pemberian identitas bayi baru lahir dengan persalinan normal
4.
Pemberian
identitas dan penomoran pasien di unit gawat darurat
BAB III
: PENULISAN NAMA
DAN INDEKS PASIEN
1.
Penulisan nama
2.
Indeks utama
pasien (KIUP)
3.
Penyimpanan KIUP
BAB IV
: PENYIMPANAN
BERKAS REKAM MEDIS
1.
Sistem
penyimpanan berkas rekam medis
2.
Jangka waktu
penyimpanan berkas rekam medis
3.
Penyimpanan rekam
medis aktif
4.
Kode warna dan
penomoran
BAB V
:
PEMINJAMAN,PENANGANAN DAN PEMELIHARAAN RM
1. Peminjaman berkas rekam medis
2. Pengambilan berkas rekam medis dari rak penyimpanan
3. Pemasangan lembar perunut (out guide)
4. Pengiriman berkas rekam medis
5. Pengembalian berkas rekam medis
6. Peraturan dan tatatertib pengamanan berkas rekam medis
7. Pemeliharaan berkas rekam medis
8. Kerahasiaan informasi dalam berkas rekam medis
BAB VI
: PROSEDUR PASIEN
DI RAWAT
1. Ketentuan pendaftaran pasien rawat jalan ( flow chat)
2. Prosedur penerimaan pasien rawat jalan :
a. Pasien baru
b. Pasien lama tanpa perjanjian
c. Pasien lama dengan perjanjian
3. Prosedur penerimaan pasien di IGD
4. Ketentun dan prosedur penerimaan pasien rawat inap
5. Ketentuan dan prosedur pasien rawat inap pulang
6. Ketentuan dan prosedur pasien keluar rumah sakit
7. Ketentuan dan prosedur konsul pasien
8. Ketentuan dan prosedur pasien pulang paksa
BAB VII
: PENCATATAN DAN
PENGISIAN REKAM MEDIS
1. Pencatatan rekam medis
2. Penulisan symbol,singkatan dan tanda khusus
3. Ringkasan selama dirawat
4. Ketentuan dan prosedur Infomed Consent
5. Laporan kacelakaan
6. Otopsi (walaupun rumah sakit tidak melakukan sendiri)
7. Pembuatan Visum et Repertum
8. Ketentuan dan prosedur pelayanan asuransi
9. Riwayat penyakit pasien
10.Catatan
perintah dokter untuk pengobatan dll11.Laporan anestensi, operasi, tindakan lain12.Catatan observasi pasien
13.Catatan perkembangan pasien
14.Penulisan diognosa15.Bukti dokter penanggung jawab pasien memberikan Penjelasan tentang penyakit pasien dan pendidikan tentang kewajiban pasien16.Kewajiban dokter dan perawat mengisi rekam medis secara lengkap, benar, jelas, akurat, tepat waktu, tanpa coretan
BAB VIII
: SISTEM
PELAPORAN
1. Laporan internal berkala
2. Laporan eksternal berkala
3. Laporan khusus sewaktu
BAB IX
: SUB KOMITE
REKAM MEDIS
1. Keputusan pembentukan sub komite rekam medis
2. Tugas pokok, fungsi dan tanggung jawab sub komite RM
3. Keanggotaan
4. Uraian tugas
5. Struktur organisasi
Download Bukunya disini :
Selasa, 27 Oktober 2015
KARTU INDEKS UTAMA PASIEN
07.03
KARTU INDEKS UTAMA PASIEN
1. Pengertian
Kartu Indeks Utama Pasien atau KIUP adalah kartu yang dijadikan
database pasien secara manual,sehingga KIUP harus mutlak dibuat bagi setiap
pasien yang baru mendaftar di TPP (Tempat Pendaftaran Pasien ) Baik itu pasien
rawat jalan ,rawat inap,dan rawat darurat.
Kartu Indeks Utama Pasien berguna sebagai backup apabila pasien lupa
membawa kartu berobatnya.KIUP yang merupakan salah satu sumber data penting
pasien ini bersifat permanen atau disimpan selamanya pada instansi rumah
sakit,karena itu KIUP harus diisi secara
lengkap dan tepat sesuai dengan identitas pasien.
2. Data / Variabel Kartu Indeks Utama Pasien .
KIUP dibuat berdasarkan atas ringkasan riwayat klinik yang diterima
dari tempat penerimaan pasien.KIUP harus dibuat selengkap dan sejelas
mungkin.Dalam KIUP dimuat beberapa data identitas pasien yang dibuat secara
terperinci dan lengkap,data tersebut antara lain:
a.
Nama Lengkap Pasien.
b.
Nomor Rekam Medis.
c.
Tempat Tanggal Lahir.
d.
Jenis Kelamin.
e.
Alamat Lengkap.
f.
Nama Ayah.
g.
Nama Ibu.
h.
Nama Suami/Istri.
i.
Agama.
j.
Pekerjaan.
k.
Status.
l.
Penanggung Jawab.
m.
Tanggal Kunjungan.
Ada beberapa catatan penting dalam pengisian data KIUP yaitu ada
beberapa data yang bisa saja berubah seperti Alamat,Status,Nama Suami atau Istri,Agama,Pekerjaan,maka
setiap terjadi perubahan data maka perubahan tersebut bisa di tulis di balik
KIUP disertai dengan tanda tangan petugas yang menerima perubahan data
tersebut.atau bisa dibuatkan kolom keterangan pada kartu untuk mengisi
perubahan tersebut,atau dibuatkan kartu KIUP baru dengan keterangan petunjuk ke
KIUP lama.
3. Standarisasi Pembuatan Kartu Indeks Utama Pasien.
Untuk membuat
kartu indeks utama pasien atau KIUP harus diperhatikan beberapa hal penting
yang menjadi standar KIUP tersebut yaitu:
a.
Ukuran 12.5 x 7.5
b.
Bahan tebal dan berwarna putih.
c.
Mencakup seluruh data/variable KIUP.
KIUP harus
disimpan pada tempat tersendiri dengan cara penyimpanan secara alpabhet atau
huruf misalnya nama pasien adalah Asmarah Sukma maka KIUP disimpan pada bagian
“A”.Karena itu KIUP harus dibuat benar-benar sesuai dengan nama lengkap pasien
bukan nama panggilan atau nama samaran,tapi sesuai dengan kartu identitas
pasien misalnya KTP/SIM atau Kartu pelajar atau Kartu Keluarga atau Akte
Kelahiran.
4. KIUP vs MIP
MIP atau Master
Indeks Pasien adalah KIUP yang dibuat secara elektronik,berbeda KIUP ,MIP
disimpan didalam Hardisk Komputer,kemudahannya adalah lebih cepat dalam
pelacakan identitas pasien ,memuat lebih banyak data,dan lebih aman ( Kerusakan
KIUP seperti Sobek,atau luntur terkena air).MIP juga harus dibuat backup
apabila computer error atau terbakar.
Minggu, 25 Oktober 2015
Sistem Penomoran Rekam Medis
21.21
Sistem Penomoran Rekam Medis
A. Pendahuluan
Pasien
yang melakukan kunjungan ke Rumah Sakit harus mengetahui alur prosedurnya mulai
dari alur pelayanan ke Rawat Inap,Rawat Jalan,Rawat Darurat,dan instansi
pelayanan lainya.Dan semua alur tersebut dimulai dari TPP (Tempat Pendaftaran
Pasien).
Pasien yang mendaftar akan dibuatkan berkas Rekam Medis dan Nomor rekam medis.kegunaan dari nomor rekam medis pada prinsipnya sebagai identitas penyimpanan berkas.Kenapa berkas rekam medis harus disimpan berdasarkan nomor bukan nama pasien,karena dengan nomor akan lebih mudah di jajarkan,diambil kembali saat diperlukan.Tentu ini lebih baik daripada berkas pasien disimpan berdasrkan namanya karena berkas akan sulit dilacak bila ada beberapa pasien yang memiliki nama yang sama dan hampir sama.
Pasien yang mendaftar akan dibuatkan berkas Rekam Medis dan Nomor rekam medis.kegunaan dari nomor rekam medis pada prinsipnya sebagai identitas penyimpanan berkas.Kenapa berkas rekam medis harus disimpan berdasarkan nomor bukan nama pasien,karena dengan nomor akan lebih mudah di jajarkan,diambil kembali saat diperlukan.Tentu ini lebih baik daripada berkas pasien disimpan berdasrkan namanya karena berkas akan sulit dilacak bila ada beberapa pasien yang memiliki nama yang sama dan hampir sama.
Ada
3 model sistem penomoran yang bias diterapkan yaitu :
1.
Sistem Penomoran Seri
2.
Sistem Penomoran Unit
3.
System penomoran seri unit
B. Pengertian dan Tujuan
Seperti
yang dijelaskan sebelumnya pada intinya penomoran ini berfungsi untuk penyimpanan
berkas rekam medis,sehingga nomor tersebut akan menjadi petunjuk apa bila berkas
rekam medis digunakan saat pasien berkunjung kembali ke rumah sakit.dari
Pemahaman tersebut bisa di simpulkan bahwa sistem penomoran rekam medis adalah
cara yang digunakan untuk menyimpan berkas rekam medis berdasar nomor pengenal
( Record Number ).Pemberian nomor tersebut diberikan pertama kali untuk
kunjungan baru pasien.
Berikut
penjelasan dari masing-masing system penomoran:
1. Sistem Penomoran Seri ( Serial Numbering System )
Pada system ini
setiap pasien berkunjung ke rumah sakit akan di buatkan berkas rekam medis
dengan nomor rekam medis baru,jadi bila pasien berkunjung 3 kali maka pasien
memiliki 3 nomor rekam medis yang berbeda.Nomor rekam medis pasien juga
tercatat dalam KIUP (Kartu Indeks Utama Pasien) yang berbeda (*KIUP akan
dibahas pada artikel lainya,dan berkasnya pun disimpan terpisah sesuai dengan
nomor rekam medis masing-masing.keuntungan dari system ini adalah pasien
dilayani lebih cepat tapi akibatnya berkas akan cepat menumpuk sehingga di
butuhkan ruang penyimpanan yang luas dan sulit melacak riwayat penyakit pasien
tersebut karena akan membutuhkan banyak waktu untuk mengumpulkan berkas pasien
yang memiliki banyak nomor rekammedis yang berbeda.
2. Sistem Penomoran Unit
Berbeda dengan penomoran seri pada system penomoran unit pasien hanya
boleh memiliki satu nomor rekam medis dan nomor tersebut akan selalu digunakan
saat pasien melakukan kunjungan lanjutan ke rumah sakit.kelebihan dari system
ini adalah record pelayanan pasien meliputi rawat jalan,rawat inap,dan rawat
darurat berada dalam satu berkas sehingga mudah melacak kronologi atau riwayat
penyakit serta riwayat pengobatan pasien.namun kekurangan dari system ini
adalah berkas menjadi tebal sehingga dibutuhkan lebih dari map berkas untuk
satu pasien.Bisa terjadi duplikasi nomor rekam medis bila petugas lalai atau
pasien lupa membawa kartu indeks berobatKekurangan diatas bisa diatasi atau diminimalisir dengan kebijakan
tertentu,misalnya kecakapan petugas dalam mencatat nomor rekam medis dan selalu
mengingatkan akan kesadaran pasien bahwa betapa pentingnya untuk menjaga kartu
indeks berobatnya.Bila pasien memang kehilangan nomor rekam medis hal ini bisa
diatasi bila rumah sakit memiliki system pendaftaran yang terkomputerisasi.kelebihan
dari system komputerasi databasae pasien mudah di lacak meski hanya dengan kata
kunci nama pasien.
3. Sistem Penomoran Seri Unit ( Serial Unite numbering system )
Adalah
gabungan antara penomoran seri dan unit. Yaitu setiap pasien berkunjung akan
diberikan nomor baru,namun berkas lama dan nomor rekam medis lama pasien tidak
dipisahkan dengan nomor rekam medis dan berkas rekam medis baru
pasien.Kelebihan dari system ini adalah terkumpulnya berkas rekam medis pasien
dan memudahkan dalam retensi berkas rekam medis.kekurangannya akan menimbulkan
terlalu banyak nomor rekam medis untuk satu pasien dan susah melacak nomor
rekam medis lama pasien apabila pasien lupa membawa kartu berobatnya sehingga
bias menyebabkan nomor rekam medis pasien yang baru akan terpisah dengan nomor
rekam medis lama pasien.
Dari
ketiga system penomoran rekam medis diatas yang paling dianjurkan adalah system
penomoran seri karena 1 nomor rekam medis untuk 1 satu pasien akan memiliki 1
kumpulan berkas rekam medis dari berbagai pelayanan yang didapatkan pasien
tersebut.lantas muncul pertanyaan kenapa data berkas rekam medis harus
terkumpul sama-sama dan tidak dianjurkan terpisah,jawabanya adalah karena data
tersebut berguna untuk mengetahui kronologi penyakit dan kronologi riwayat
pelayanan pasien ,kronologi penyakit ini sangat diperlukan untuk mengetahui
seberapa jauh perkembangan penangan penyakit tersebut dan kronologi riwayat
pelayanan berguna untuk mengetahui seberapa efektif penanangan yang telah
dilakukan,misalnya dengan ilustrasi sederhana, ada pasien pernah berkunjung
dengan keluhan benturan dikepala,setelah pasien dilayani,kemudian pasien datang
lagi dengan keluhan sakit kepala,dengan data kronologi , dokter bisa mengetahui
bahwa pasien pernah mengalami benturan dikepala dan dokter kemudian akan
menentukan tindakan apa yang harus dilakukan apakah sakit kepala yang diderita
pasien ada pengaruhnya dari benturan yang pernah dialami pasien,jika tidak maka
dokter bisa melakukan tindakan yang lebih tepat untuk pasien tersebut.
4. Transformasi Penomoran Seri ke Unit
Untuk merubah
system penomoran seri ke unit ada beberap langkah yang harus diperhatikan.
a.
Menyiapkan Lokasi penyimpanan berkas yang baru.
b.
Pelatihan petugas dalam mengetahui system kerja
penomoran unit.
c.
Menentukan Tanggal Perubahan system penomoran
seri ke unit.
d.
Pasien baru dibuatkan nomor rekam medis baru,
dan pasien lama yang belum memiliki nomor rekam medis tertanggal perbuhanan
system tersebut akan di berikan nomor rekam medis baru.
e.
Pasien lama yang mendapat nomor rekam medis baru
,berkasnya akan digabungkan dengan berkas rekam medis lama pasien.
f.
Berkas lama pasien yang tidak sempat terlacak
akan di anggap sebagai berkas tidak aktif.
C. Catatan Penting untuk Pasien
Sudah
dibahas diatas apa itu nomor rekam medis dan kegunaanya,jadi sebagai pasien
yang bijak harus tau bahwa kartu berobatnya harus disimpan dengan baik.kadang
ada juga pasien yang ingin mendapatkan pelayanan yang cepat dari tempat
pendaftaran sehingga pasien lama mengaku sebagai pasien baru.tanpa memperdulikan
bahwa riwayat pelayanannya yang lama itu sangat penting baginya.
Sekian dari
artikel ini semoga bermanfaat dan semoga kita semua sehat selalu.Aamiin
Senin, 27 April 2015
Istilah dan Petunjuk Pengkodean dalam menggunakan ICD
13.10
Istilah dan Petunjuk Pengkodean dalam menggunakan ICD
![]() |
| Pikesstikpan.blogspot.com- Istilah dan Petunjuk Pengkodean dalam menggunakan ICD |
Berikut ulasan Istilah dan petunjuk yang digunakan dalam pengkodean ICD
A. Istilah Pengkodean
a. Istilah “inclusion” (termasuk)
Dalam pokok bahasan pada tiga atau empat karakter seringkali ditemukan sejumlah istilah diagnostik lain yang disebut sebagai “inclusion term” (artinya, kira-kira: termasuk) dimaksudkan sebagai tambahan diagnostik yang dapat diklasifikasikan kedalam kelompok yang bersangkutan.
Istilah pada “inclusion” dapat juga dipakai untuk kondisi yang berbeda atau sinonimnya (sesuai dengan catatan pada “inclusion”) yang bukan subklasifikasi kelompok tersebut. Digunakan sebagai pedoman rubrik.
Contoh: A06 Amoebiasis includes infection due to Entamoeba hystoliticab. Istilah “exclusion” (tak termasuk)
Beberapa pokok bahasan tertentu berisi kondisi yang didahului dengan kata “exclusion”.Istilah ini menunjukkan kode di tempat lain, tidak di dalam kategori ini. Kode yang benar adalah yang diberi tanda dalam kurung yang mengikuti istilah itu.
Contoh: A09 Diarrhoea and gastroenteritis of presumed infectious origin
Excludes due to bacterial, protozoal, viral and other specified infectious agent ( A00 – A08)
c. Penjelasan kata istilah (Glossary)
Terdapat pada Bab V yaitu gangguan mental dan perilaku, menggunakan penjelasan glossary untuk menunjukkan isi rubrik ini. Hal ini digunakan karena terminologi gangguan mental sangat bervariasi, terutama perbedaan diantara negara, dari nama yang sama mungkin digunakan untuk menggambarkan kondisi yang agak berbeda. Glossary tidak dipergunakan untuk penggunaan membuat kode diagnosis, tetapi diperuntukkan sebagai petunjuk dokter klinik untuk mengisi rubrik.
d. Kode rangkap: Sistem Dagger (sangkur) dan Asteris (bintang)
Sistem kode rangkap dari kombinasi kode melalui tambahan tanda sangkur (†) dan tanda bintang (*) telah digunakan pada ICD-10. Jadi membolehkan penjelasan kondisi dalam istilah yang mendasari penyebab atau etiologi (†) dan manifestasi (*). Kode primer untuk penyakit yang mendasari penyebab ditandai dengan tanda sangkur (†). Kode untuk manifestasi ditandai dengan tanda bintang (*).
Prinsip dasar ICD adalah kode sangkur yaitu kode primer dan harus selalu digunakan untuk kondisi tunggal. Kode bintang tidak pernah digunakan sendirian.
Ada 83 kategori tanda bintang dalam ICD-10 yang mungkin digunakan dalam hubungannya dengan kode sangkur, tetapi tidak digunakan sendirian. Kategori bintang terdapat pada permulaan setiap bab, blok, dan rubrik yang sesuai.
e. Tanda kurung/ parentesis ( )
Tanda kurung digunakan dalam jilid 1 dalam empat cara:1) Untuk menyertakan kata-kata tambahan, yang akan mengikuti istilah diagnostik tanpa mempengaruhi angka kode yang dirujuk oleh kata di luar kurung.
Contoh : G 11.1 Early – onset cerebellar attaxia
Friedrich’s attaxia (autosomal recessive)
2) Untuk menyertakan kode yang dimaksud dalam istilah “exclusion”
Contoh: A04 Other bacterial intestinal infection
Excludes: Foodborne intoxication, bacterial (A05.-)
3) Untuk menyertakan kode tiga karakter dari kategori dalam blok tertentu
Contoh: Intestinal Infectious diseases (A00 – A09)
4) Untuk menyertakan kode sangkur dalam kategori bintang atau kode bintang dalam istilah sangkur
Contoh: A02. 2 Localized salmonella infections
Salmonella:
Arthritis (M01.3*)
f. Kurung besar / square brackets [ ]
Kurung besar digunakan:1) Untuk menyertakan sinonim, kata-kata alternatif atau kalimat penjelasan.
Contoh : A07.1 Giardiasis [lambiasis]
2) Untuk merujuk pada catatan
Contoh: C21.8 Overlapping lesion of rectum, anus and anal canal
[lihat note 5 pada halaman 182 pada ICD-10 Volume 1]
3) Untuk merujuk ke kelompok subdivisi karakter keempat yang dinyatakan sebelumnya.
Contoh : F10.- Mental and behavioral disorders due to use of alkohol
[lihat hal. 321-323 untuk subdivision pada ICD-10 Volume 1]
g. Titik dua/ colon (:)
Titik dua digunakan dalam daftar istilah inclusion dan exclusion, jika kata yang mendahului tidak lengkap penetapan istilahnya dalam rubric.
Contoh: A06.8 Amoebic infection of other sitesAmoebic:
• Appendicitis
• Balantis† (N51. 2*)
h. Brace { }
Tanda kurung besar digunakan dalam istilah inclusion dan exclusion untuk menunjukkan bahwa baik kata terdahulu maupun kata sesudahnya adalah istilah lengkap. Sembarang istilah dibelakang tanda kurung besar, seharusnya dikualifikasi oleh satu atau lebih istilah yang mengikutinya.
Contoh : A09 Diarrhoea and gastroenteritis of presumed infectious originCatarrh, enteric or intestinal
• Colitis NOS
• Enteritis haemorrhagic
• Gastroenteritis septic
i. NOS (yang tak ditentukan)
NOS adalah singkatan dari “Not Otherwise Specified” artinya “tidak dispesifikasikan” atau ”tidak dikualifikasikan”
Pemberi kode sebaiknya berhati-hati untuk memberi kode suatu istilah tidak dikualifikasikan kalau informasi yang disediakan tidak begitu jelas.
Contoh: A03.9 Shigellosis, unspesifiedBacillary dysentery NOS
j. Not Elsewhere Classified
NEC adalah singkatan dari “Not Elsewhere Classified”
Apabila digunakan judul pada kategori tiga karakter, NEC merupakan sebagai peringatan bahwa beberapa jenis tertentu dari kondisi yang tercantum dalam rubrik tersebut, bisa saja tercantum pada klasifikasi lain.
Contoh : K73 Chronic hepatitis, not elsewhere classifiedk. Pemakaian “and” dalam judul
Pada ICD-10 “dan” berarti “dan/atau”Contoh: S49.9 Unspecified injury of shoulder and upper arm
Berarti cedera yang tak dispesifikasikan dari bahu atau cidera lengan atas yang tak dispesifikasikan atau cidera yang tak dispesifikasikan dari bahu dan lengan atas.
l. Titik strip/ point dash (.-)
Digunakan sebagai pengganti karakter keempat dari satu kategori, titik strip (.-) menunjukkan pada pemberi kode bahwa ada satu karakter keempat dan sebaiknya dicari dalam kategori yang cocok pada daftar tabulasi.
Contoh : A06 Amoebiasis
Excludes other protozoal intestinal diseases (A07.-)
B. Petunjuk Dasar Pengkodean
Sebelum melaksanakan pengkodean, pelaksana kode harus memahami terlebih dahulu prinsip klasifikasi dan pengkodean serta pernah mendapat latihan praktis. Berikut petunjuk sederhana dalam pengkodean:
a. Identifikasi tipe pernyataan yang akan dikode dan buka volume 3 alfabetikal indeks (kamus)Bila pernyataan adalah penyakit atau cidera atau kondisi lain yang terdapat pada Bab I – XXI vol. 1, lihat section I pada Index – vol. 3. Bila pernyataan adalah penyebab luar = external cause dari cedera atau kejadian lain yang terdapat pada Bab XX – vol. 1, lihat section II pada Index- vol. 3.
b. Lihat lead term. Untuk penyakit dan cidera : biasanya merupakan kata benda untuk kondisi patologis. Walaupun begitu, beberapa kondisi dikondisikan sebagai kata sifat (adjectives) atau eponym (menggunakan nama penemu) yang terdapat dalam indeks sebagai lead term.
c. Baca seksama dan ikuti petunjuk catatan yang muncul dibawah term.
d. Baca istilah yang terdapat dalam tanda kurung ”( )” sesudah lead term (kata tanda dalam kurung = modifier, itu tidak mempengaruhi nomor kode). Istilah lainnya yang dibawah lead term (dengan tanda minus = idem = indent) dapat mempengaruhi nomor kode, sehingga semua kata-kata diagnostik diperhitungkan).
e. Ikuti secara hati-hati setiap tunjuk silang (cross-references) dan lihat ”see” dan ”see also” yang terdapat dalam indeks.
f. Lihat tabulasi list ( vol. 1) untuk melihat nomor kode yang paling tepat. Lihat kode tiga karakter di indeks dengan tanda minus pada posisi keempat yang berarti bahwa isian untuk kode keempat itu adalah dalam volume 1 dan merupakan posisi karakter tambahan yang tidak ada dalam indeks (volume 3)
g. Ikuti pedoman ”inclusion” atau ”exclusion” pada kode yang dipilih atau dibagian bawah suatu bab (chapter), blok atau judul kategori.
h. Cantumkan kode yang dipilih.
(Depkes RI,1999)
Kunjungi juga :
Download ebook Pedoman pemantauan terapi obat PTO
12.36
Download ebook Pedoman pemantauan terapi obat PTO
Buku Pedoman PTO atau Pemantauan Terapi Obat
Dalam ebook ini anda akan mendapatan pengkajian pilihan obat, dosis, cara pemberian obat, respons terapi, reaksi obat yang tidak dikehendaki (ROTD) )dan rekomendasi perubahan atau alternatif terapi.
Glosarium tentang Data dan Informasi Kesehatan
12.31
Glosarium tentang Data dan Informasi Kesehatan
Download ebook glosarium tentang data dan informasi kesehatan
Berikut ebook glosarium tentang data dan informasi kesehatan,dengan ebook ini anda akan mengetahui beberapa istilah kesehatan tentang data dan informasi kesehatan.Download disini
Download Ebook Rekam Medis dan SIK di Puskesmas
12.24
Download Ebook Rekam Medis dan SIK di Puskesmas - Sharon Gondodiputro,dr.,MARS
Download Ebook rekam medis dan Sistem Informasi Kesehatan di pelayanan kesehatan primer (Puskesmas ) Karya : Sharon Gondodiputro,dr.,MARS
Silahkan download ebook tentang rekam medis dan sistem informasi kesehatan di puskesmas berikut :
Download Ebook Tentang Kanker
09.51
Download Ebook Tentang Kanker
Download ebook tentang pengantar kanker karya www.untuksehat.co.cc
Ebook ini berisi seputar pengenalan tentang kanker,semoga bermanfaat yo :
Ebook - AMI Penyakit Menular
08.53
Selasa, 18 November 2014
Download Ebook - Farmakologi Obat
09.45
Gratis Download ebook Farmakologi Obat
Dalam ebook ini akan di bahas tentang pengantar obat.
Kumpulan Kode ICD10 yang paling banyak di temukan di Puskesmas
09.38
Kumpulan Kode ICD10 yang paling banyak di temukan di Puskesmas
Langganan:
Postingan (Atom)












.png)