Tampilkan postingan dengan label ICD10. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ICD10. Tampilkan semua postingan
Kamis, 12 Oktober 2017
Cara Koding Diagnosa Suspek
05.20
Koding ICD kondisi suspect, gejala dan temuan abnormal dan situasi non-penyakit
Dalam periode perawatan rawat inap coder harus berhati-hati tentang mengklasifikasikan diagnosa utama untuk Bab XVIII danXXI. Jika diagnosis yang lebih spesifik belum ditentukan pada akhir episode rawat inap tinggal, atau jika benar-benar tidak ada penyakit atau cedera, maka kode dari Bab XVIII dan XXIdiperbolehkan untuk digunakan (lihat juga Aturan MB3 dan MB5, bagian 4.4.3 dalam manual ICD 10) . Kategori ini juga dapat digunakan untuk episode lain dalam kategori kontak denganpelayanan kesehatan.
Jika, setelah episode perawatan kesehatan, diagnosis utama masih dicatat sebagai suspected, atau masih dipertanyakan, dan tidak ada informasi lebih lanjut atau klarifikasi dari dokter yang terkait, yang diduga (suspected) diagnosis harus dikode.
Kategori Z03.- (Medical observation and evaluation for suspected diseases and conditions) observasi medis dan evaluasi untuk tersangka penyakit dan kondisi, berlaku untuk dugaan diagnosa yang dapat dikesampingkan setelah penyelidikan.
Berikut beberapa contoh kasusnya :
Diagnosis Utama : Suspected acute cholecystitis
Diagnosis Sekunder : —
Kesimpulan : Kode acute cholecystitis (K81.0) sebagai diagnosis utama.
Diagnosis Utama : Admitted for investigation of suspected malignant neoplasm of cervix - ruled out
Mengakui untuk penyelidikan dugaan neoplasma ganas serviks - dikesampingkan.
Kesimpulan : Kode observation for suspected malignant neoplasm (Z03.1) sebagai diagnosis utama.
Diagnosis Utama : Ruled out myocardial infarction
Diagnosis Sekunder : —
Kesimpulan : Kode observation for suspected myocardial infarction (Z03.4) sebagai diagnosis utama.
Diagnosis Utama : Severe epistaxis
Diagnosis Sekunder : —
Pasien di rumah sakit satu hari. Tidak ada prosedur atau investigasi dilaporkan
Kesimpulan : Kode untuk epistaksis (R04.0) sebagai diagnosis utama. Hal ini dapat diterima karena pasien jelasmengaku berurusan dengan darurat saja.
Ketentuan tersebut diatas berdasarkan ICD-10 Second Edition, 2005, 4. Rules and guidelines for mortality and morbidity coding.
Sekian, semoga bermangfangat.
Jika, setelah episode perawatan kesehatan, diagnosis utama masih dicatat sebagai suspected, atau masih dipertanyakan, dan tidak ada informasi lebih lanjut atau klarifikasi dari dokter yang terkait, yang diduga (suspected) diagnosis harus dikode.
Kategori Z03.- (Medical observation and evaluation for suspected diseases and conditions) observasi medis dan evaluasi untuk tersangka penyakit dan kondisi, berlaku untuk dugaan diagnosa yang dapat dikesampingkan setelah penyelidikan.
Berikut beberapa contoh kasusnya :
Diagnosis Utama : Suspected acute cholecystitis
Diagnosis Sekunder : —
Kesimpulan : Kode acute cholecystitis (K81.0) sebagai diagnosis utama.
Diagnosis Utama : Admitted for investigation of suspected malignant neoplasm of cervix - ruled out
Mengakui untuk penyelidikan dugaan neoplasma ganas serviks - dikesampingkan.
Kesimpulan : Kode observation for suspected malignant neoplasm (Z03.1) sebagai diagnosis utama.
Diagnosis Utama : Ruled out myocardial infarction
Diagnosis Sekunder : —
Kesimpulan : Kode observation for suspected myocardial infarction (Z03.4) sebagai diagnosis utama.
Diagnosis Utama : Severe epistaxis
Diagnosis Sekunder : —
Pasien di rumah sakit satu hari. Tidak ada prosedur atau investigasi dilaporkan
Kesimpulan : Kode untuk epistaksis (R04.0) sebagai diagnosis utama. Hal ini dapat diterima karena pasien jelasmengaku berurusan dengan darurat saja.
Ketentuan tersebut diatas berdasarkan ICD-10 Second Edition, 2005, 4. Rules and guidelines for mortality and morbidity coding.
Sekian, semoga bermangfangat.
sumber : hakayuci
Senin, 15 Mei 2017
Free Download ICD 10 Volume 2 Bahasa Indonesia
17.35
Terjemahan ICD 10 Volume 2 dari Dr. Erkadius,M.Sc.
Bersama APIKES IRIS
![]() |
| Daftar Isi Ebook ICD 10 Volume 2 Indonesia |
Tujuan ICD 10 Volume 2
ICD bertujuan untuk memudahkan pencatatan data mortalitas dan morbiditas, serta
analisis, interpretasi dan pembandingan sistematis data tersebut antara
berbagai wilayah dan jangka waktu.
ICD dipakai untuk mengubah diagnosis
penyakit dan masalah kesehatan lain menjadi kode alfa-numerik, sehingga
penyimpanan, pengambilan dan analisis data dapat dilakukan dengan mudah.
Di dalam praktek, ICD telah menjadi
klasifikasi diagnosis standard internasional untuk semua tujuan epidemiologi
umum dan berbagai tujuan manajemen kesehatan. Hal ini mencakup analisis situasi
kesehatan masyarakat, pemantauan insiden dan prevalensi penyakit dan masalah
kesehatan lain, dan hubungannya dengan variabel lain seperti ciri-ciri orang
yang terlibat dan situasi yang dihadapinya. ICD tidak dimaksudkan untuk
mengindeks entitas klinis yang lebih detil, atau aspek finansial seperti
penagihan dan alokasi sumber daya.
Walaupun ICD dirancang untuk klasifikasi semua
diagnosis resmi penyakit dan cedera, tidak semua masalah bisa dikategorikan
dengan cara ini.
Oleh karena itu ICD menyediakan tempat untuk gejala, tanda,
serta penemuan klinis dan laboratorium yang abnormal (Bab XVIII), dan
faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan dan kontak dengan asuhan kesehatan
(Bab XXI).
Jadi ICD bisa dipakai untuk mengklasifikasi data ‘diagnosis’,
‘alasan admisi’, ‘kondisi yang diobati’, dan ‘alasan konsultasi’, yang terdapat
pada berbagai catatan yang merupakan sumber statistik dan informasi kesehatan.
kesimpulannya Volume 2 dari ICD revisi 10 ini berisi pedoman
untuk mencatat dan mengode, bersama banyak material baru pada aspek praktis
penggunaan klasifikasi, di samping sebagai garis besar latar belakang sejarah
klasifikasi ini. Material ini disajikan sebagai volume terpisah untuk
memudahkan penanganan ketika rujukan perlu dibuat pada waktu yang bersamaan ke
klasifikasi (Volume 1) dan petunjuk penggunaannya (Volume 2). Petunjuk deail
tentang penggunaan Indeks Alfabet terdapat di dalam pengantar pada Volume 3.
Manual petunjuk ini menyediakan uraian dasar
ICD, bersama dengan petunjuk praktis untuk pengode mortalitas dan morbiditas,
dan pedoman untuk presentasi dan interpretasi data. Ini tidak dimaksudkan untuk
memberikan latihan deail dalam penggunaan ICD. Material yang dilibatkan disini
perlu diperkuat dengan latihan resmi yang memungkinkan praktek luas terhadap
contoh rekam medis dan pembahasan masalah.
Cara Download ICD 10 Volume 2
Untuk mendownloadnya silahkan klik DISINI .anda akan dihantarkan ke halaman mediafire seperti gambar di bawah lalu klik tombol download yaang berwarna hijau.
Rabu, 30 Maret 2016
Gratis Download ICD-10-CM FYI2016 Lengkap
18.40
Gratis Download ICD-10-CM FYI2016 Lengkap
Helo sobat pada postingan sebelumnya saya mengupload ebook ICD-10 CM 2015 kalau mau liat klik disini dan sekarang sama saya juga upload ICD-10-CM FYI2016 tapi versinya berbeda karena ini untuk tahun 2016, fitur dan kelebihannya sudah saya jelaskan di postingan sebelumnya kayaknya gak usah banyak basa basi deh.langsung comot aja yah sobat . Seperti biasa untuk download tinggal klik tombol downloanya.kalau ada masalah download jangan sungkan hubungi saya.
![]() |
| Gratis Download ICD-10-CM FYI2016 Lengkap |
Gratis Download ICD-10-CM FYI2015 Lengkap
18.15
Gratis Download ICD-10-CM FYI2015 Lengkap
![]() |
| Gratis Download ICD-10-CM FYI2015 Lengkap |
Kali ini sobat akan download ebook Gratis Download ICD-10-CM FYI2015 Lengkap dengan berbagai versi yaitu TXT,PDF,XML. Kelebihan dari ICD-10 ini selain karena lengkap tapi juga disertai hyperlink atau daftar isi sehingga memudahkan dalam pencarian jadi gak repot-repot harus scrol ribuan halaman . cukup klik di daftar isi maka otomatis akan langsung menuju halaman,Bayangkan ICD-10 setebal itu dalam satu buku tentu merepotkan bila harus dibuka,tapi tak usah khawatir karena ICD-10 versi ini dibagi terpisah menjadi 5 file yaitu:
- Drug ICD-10 CM
- E-index ICD-10 CM
- Index ICD-10 CM
- Neoplasm ICD-10 CM
- Tabular ICD-10 CM
1. ICD10CM_FY2015_code_descriptions
2. ICD-10-CM FYI2015 format PDF
3. ICD-10-CM FYI2015 format XML
Semoga Bermanfaat jika anda punya masalah download jangan sungkan hubungi saya
Gratis Download ICD-10-CM TABULAR LIST of DISEASES and INJURIES
17.52
Gratis Download ICD-10-CM TABULAR LIST of DISEASES and INJURIES
Mungkin sobat bisa jadikan sebagai koleksi buka ICD nya dan kali ini sobat bisa download ebook Grats Download ICD-10-CM TABULAR LIST of DISEASES and INJURIES . ebook ini dalam format PDF yang terdiri dari 2038 halaman.
Untuk Mendownloadnya silahkan klik tombol download
Selasa, 22 Maret 2016
Free atau Gratis Download ICD 10 Edisi 2010 Volume 2
16.23
Free atau Gratis Download ICD 10 Edisi 2010 Volume 2
Silahkan download ICD 10 Tent Revision volume 2 2010 Edition Lengkap . File yang anda download ini dalam bentuk PDF. klik DISINI
Free atau Gratis Download ICD 10 Inggris - Indonesia xls
15.46
Free atau Gratis Download ICD 10 Inggris - Indonesia xls
Sobat bisa mendowload secara gratis ICD 10 dua bahasa yaitu Inggris dan Indonesia, ICD 10 ini di buat dalam tipe file xls atau file yang dapat di jalankan di Microsoft excel.ICD 10 ini hanya sekedar tabel indeks dari A-Z . Semoga bermanfaat.
Silahkan Download ICD 10 Inggris dan Indonesia DISINI
Sabtu, 13 Februari 2016
Kaidah Koding Kode ICD B20-B24 HIV disease
03.45
Seorang pasien dengan sistem kekebalan tubuh akibat penyakit HIV kadang-kadang memerlukan pengobatan lebih dari satu penyakit selama episode perawatan yang sama, misalnya mikobakteri dan infeksi sitomegalovirus. Kategori dan subkategori disediakan di blok kode ICD B20-B24 HIV disease untuk penyakit HIV dengan berbagai penyakit penyerta lainnya. Kode subkategori yang sesuai untuk kondisi utama dipilih oleh dokter.
Jika kondisi utama dicatat sebagai penyakit HIV dengan beberapa penyakit penyerta, kode ICD yang dipilih adalah kode ICD B20-B22 dengan subkategori 7 (mutiple). Sedangkan kode ICD B22.7 harus digunakan bila terdapat kondisi dua atau lebih dari kategori kode ICD B20-B22. Kode tambahan dalam blok B20-B24 dapat digunakan, jika diinginkan untuk menentukan kondisi individu yang tercatat.
Pada kasus yang jarang terjadi ketika kondisi yang berhubungan dengan jelas mendahului infeksi HIV, kombinasi ini seharusnya tidak boleh dikode dan aturan seleksi harus diikuti.
Contoh 1
Kondisi utama : HIV disease dengan Kaposi's sarcoma
Kondisi lain : -
Kode ICD : HIV disease resulting in Kaposi's sarcoma (B21.0).
Contoh 2
Kondisi utama : Toxoplasmosis dan cryptococcosis pada pasien HIV
Kode ICD : HIV disease resulting in multiple infections (B20.7). Dapat digunakan sebagai kode tambahan kondisi penyertanya : B20.8 (HIV disease resulting in other infectious and parasitic diseases), B20.5 (HIV disease resulting in other mycoses).
Contoh 3
Kondisi utama : HIV disease dengan Pneumocystis carinii pneumonia, Burkitt's lymphoma dan oral candidiasis
Kondisi lain : -
Kode ICD : HIV disease resulting in multiple diseases (B22.7). Dapat digunakan sebagai kode tambahan kondisi penyertanya : B20.6 (HIV disease resulting in Pneumocystis carinii pneumonia), B21.1 (HIV disease resulting in Burkitt's lymphoma), B20.4 (HIV disease resulting in candidiasis).
Subkategori pada kode ICD B20-B23, kode empat karakter hanya sebagai pilihan untuk negara yang menggunakan versi empat karakter ICD-10. Di mana jika tidak menggunakan pilihan subkategori karakter keempat, kode dari dalam klasifikasi tempat lain harus digunakan sebagai kode tambahan untuk mengidentifikasi kondisi yang spesifik.
Dalam contoh 1 di atas, kondisi utama dikodekan B21 (penyakit HIV yang mengakibatkan neoplasma ganas). Kode C46.9 (Kaposi's sarcoma) digunakan sebagai kode tambahan.
Dalam Contoh 2, kondisi utama dikodekan ke B20 (penyakit HIV yang mengakibatkan penyakit infeksi dan parasit). Kode B58.9 (Toksoplasmosis, unspecified) dan B45.9 (Kriptokokosis, unspecified) digunakan sebagai kode tambahan.
Ketentuan diatas berdasarkan petunjuk manual ICD-10 tentang Rules and guidelines for mortality and morbidity coding.
Sekian, Semoga bermangfangat.
http://www.hakayuci.com/2015/04/kaidah-koding-b20-b24-hiv-disease.html
Jika kondisi utama dicatat sebagai penyakit HIV dengan beberapa penyakit penyerta, kode ICD yang dipilih adalah kode ICD B20-B22 dengan subkategori 7 (mutiple). Sedangkan kode ICD B22.7 harus digunakan bila terdapat kondisi dua atau lebih dari kategori kode ICD B20-B22. Kode tambahan dalam blok B20-B24 dapat digunakan, jika diinginkan untuk menentukan kondisi individu yang tercatat.
Pada kasus yang jarang terjadi ketika kondisi yang berhubungan dengan jelas mendahului infeksi HIV, kombinasi ini seharusnya tidak boleh dikode dan aturan seleksi harus diikuti.
Contoh 1
Kondisi utama : HIV disease dengan Kaposi's sarcoma
Kondisi lain : -
Kode ICD : HIV disease resulting in Kaposi's sarcoma (B21.0).
Contoh 2
Kondisi utama : Toxoplasmosis dan cryptococcosis pada pasien HIV
Kode ICD : HIV disease resulting in multiple infections (B20.7). Dapat digunakan sebagai kode tambahan kondisi penyertanya : B20.8 (HIV disease resulting in other infectious and parasitic diseases), B20.5 (HIV disease resulting in other mycoses).
Contoh 3
Kondisi utama : HIV disease dengan Pneumocystis carinii pneumonia, Burkitt's lymphoma dan oral candidiasis
Kondisi lain : -
Kode ICD : HIV disease resulting in multiple diseases (B22.7). Dapat digunakan sebagai kode tambahan kondisi penyertanya : B20.6 (HIV disease resulting in Pneumocystis carinii pneumonia), B21.1 (HIV disease resulting in Burkitt's lymphoma), B20.4 (HIV disease resulting in candidiasis).
Kaidah Koding Kode ICD B20-B24 HIV disease
Dalam contoh 1 di atas, kondisi utama dikodekan B21 (penyakit HIV yang mengakibatkan neoplasma ganas). Kode C46.9 (Kaposi's sarcoma) digunakan sebagai kode tambahan.
Dalam Contoh 2, kondisi utama dikodekan ke B20 (penyakit HIV yang mengakibatkan penyakit infeksi dan parasit). Kode B58.9 (Toksoplasmosis, unspecified) dan B45.9 (Kriptokokosis, unspecified) digunakan sebagai kode tambahan.
Ketentuan diatas berdasarkan petunjuk manual ICD-10 tentang Rules and guidelines for mortality and morbidity coding.
Sekian, Semoga bermangfangat.
http://www.hakayuci.com/2015/04/kaidah-koding-b20-b24-hiv-disease.html
Senin, 27 April 2015
Istilah dan Petunjuk Pengkodean dalam menggunakan ICD
13.10
Istilah dan Petunjuk Pengkodean dalam menggunakan ICD
![]() |
| Pikesstikpan.blogspot.com- Istilah dan Petunjuk Pengkodean dalam menggunakan ICD |
Berikut ulasan Istilah dan petunjuk yang digunakan dalam pengkodean ICD
A. Istilah Pengkodean
a. Istilah “inclusion” (termasuk)
Dalam pokok bahasan pada tiga atau empat karakter seringkali ditemukan sejumlah istilah diagnostik lain yang disebut sebagai “inclusion term” (artinya, kira-kira: termasuk) dimaksudkan sebagai tambahan diagnostik yang dapat diklasifikasikan kedalam kelompok yang bersangkutan.
Istilah pada “inclusion” dapat juga dipakai untuk kondisi yang berbeda atau sinonimnya (sesuai dengan catatan pada “inclusion”) yang bukan subklasifikasi kelompok tersebut. Digunakan sebagai pedoman rubrik.
Contoh: A06 Amoebiasis includes infection due to Entamoeba hystoliticab. Istilah “exclusion” (tak termasuk)
Beberapa pokok bahasan tertentu berisi kondisi yang didahului dengan kata “exclusion”.Istilah ini menunjukkan kode di tempat lain, tidak di dalam kategori ini. Kode yang benar adalah yang diberi tanda dalam kurung yang mengikuti istilah itu.
Contoh: A09 Diarrhoea and gastroenteritis of presumed infectious origin
Excludes due to bacterial, protozoal, viral and other specified infectious agent ( A00 – A08)
c. Penjelasan kata istilah (Glossary)
Terdapat pada Bab V yaitu gangguan mental dan perilaku, menggunakan penjelasan glossary untuk menunjukkan isi rubrik ini. Hal ini digunakan karena terminologi gangguan mental sangat bervariasi, terutama perbedaan diantara negara, dari nama yang sama mungkin digunakan untuk menggambarkan kondisi yang agak berbeda. Glossary tidak dipergunakan untuk penggunaan membuat kode diagnosis, tetapi diperuntukkan sebagai petunjuk dokter klinik untuk mengisi rubrik.
d. Kode rangkap: Sistem Dagger (sangkur) dan Asteris (bintang)
Sistem kode rangkap dari kombinasi kode melalui tambahan tanda sangkur (†) dan tanda bintang (*) telah digunakan pada ICD-10. Jadi membolehkan penjelasan kondisi dalam istilah yang mendasari penyebab atau etiologi (†) dan manifestasi (*). Kode primer untuk penyakit yang mendasari penyebab ditandai dengan tanda sangkur (†). Kode untuk manifestasi ditandai dengan tanda bintang (*).
Prinsip dasar ICD adalah kode sangkur yaitu kode primer dan harus selalu digunakan untuk kondisi tunggal. Kode bintang tidak pernah digunakan sendirian.
Ada 83 kategori tanda bintang dalam ICD-10 yang mungkin digunakan dalam hubungannya dengan kode sangkur, tetapi tidak digunakan sendirian. Kategori bintang terdapat pada permulaan setiap bab, blok, dan rubrik yang sesuai.
e. Tanda kurung/ parentesis ( )
Tanda kurung digunakan dalam jilid 1 dalam empat cara:1) Untuk menyertakan kata-kata tambahan, yang akan mengikuti istilah diagnostik tanpa mempengaruhi angka kode yang dirujuk oleh kata di luar kurung.
Contoh : G 11.1 Early – onset cerebellar attaxia
Friedrich’s attaxia (autosomal recessive)
2) Untuk menyertakan kode yang dimaksud dalam istilah “exclusion”
Contoh: A04 Other bacterial intestinal infection
Excludes: Foodborne intoxication, bacterial (A05.-)
3) Untuk menyertakan kode tiga karakter dari kategori dalam blok tertentu
Contoh: Intestinal Infectious diseases (A00 – A09)
4) Untuk menyertakan kode sangkur dalam kategori bintang atau kode bintang dalam istilah sangkur
Contoh: A02. 2 Localized salmonella infections
Salmonella:
Arthritis (M01.3*)
f. Kurung besar / square brackets [ ]
Kurung besar digunakan:1) Untuk menyertakan sinonim, kata-kata alternatif atau kalimat penjelasan.
Contoh : A07.1 Giardiasis [lambiasis]
2) Untuk merujuk pada catatan
Contoh: C21.8 Overlapping lesion of rectum, anus and anal canal
[lihat note 5 pada halaman 182 pada ICD-10 Volume 1]
3) Untuk merujuk ke kelompok subdivisi karakter keempat yang dinyatakan sebelumnya.
Contoh : F10.- Mental and behavioral disorders due to use of alkohol
[lihat hal. 321-323 untuk subdivision pada ICD-10 Volume 1]
g. Titik dua/ colon (:)
Titik dua digunakan dalam daftar istilah inclusion dan exclusion, jika kata yang mendahului tidak lengkap penetapan istilahnya dalam rubric.
Contoh: A06.8 Amoebic infection of other sitesAmoebic:
• Appendicitis
• Balantis† (N51. 2*)
h. Brace { }
Tanda kurung besar digunakan dalam istilah inclusion dan exclusion untuk menunjukkan bahwa baik kata terdahulu maupun kata sesudahnya adalah istilah lengkap. Sembarang istilah dibelakang tanda kurung besar, seharusnya dikualifikasi oleh satu atau lebih istilah yang mengikutinya.
Contoh : A09 Diarrhoea and gastroenteritis of presumed infectious originCatarrh, enteric or intestinal
• Colitis NOS
• Enteritis haemorrhagic
• Gastroenteritis septic
i. NOS (yang tak ditentukan)
NOS adalah singkatan dari “Not Otherwise Specified” artinya “tidak dispesifikasikan” atau ”tidak dikualifikasikan”
Pemberi kode sebaiknya berhati-hati untuk memberi kode suatu istilah tidak dikualifikasikan kalau informasi yang disediakan tidak begitu jelas.
Contoh: A03.9 Shigellosis, unspesifiedBacillary dysentery NOS
j. Not Elsewhere Classified
NEC adalah singkatan dari “Not Elsewhere Classified”
Apabila digunakan judul pada kategori tiga karakter, NEC merupakan sebagai peringatan bahwa beberapa jenis tertentu dari kondisi yang tercantum dalam rubrik tersebut, bisa saja tercantum pada klasifikasi lain.
Contoh : K73 Chronic hepatitis, not elsewhere classifiedk. Pemakaian “and” dalam judul
Pada ICD-10 “dan” berarti “dan/atau”Contoh: S49.9 Unspecified injury of shoulder and upper arm
Berarti cedera yang tak dispesifikasikan dari bahu atau cidera lengan atas yang tak dispesifikasikan atau cidera yang tak dispesifikasikan dari bahu dan lengan atas.
l. Titik strip/ point dash (.-)
Digunakan sebagai pengganti karakter keempat dari satu kategori, titik strip (.-) menunjukkan pada pemberi kode bahwa ada satu karakter keempat dan sebaiknya dicari dalam kategori yang cocok pada daftar tabulasi.
Contoh : A06 Amoebiasis
Excludes other protozoal intestinal diseases (A07.-)
B. Petunjuk Dasar Pengkodean
Sebelum melaksanakan pengkodean, pelaksana kode harus memahami terlebih dahulu prinsip klasifikasi dan pengkodean serta pernah mendapat latihan praktis. Berikut petunjuk sederhana dalam pengkodean:
a. Identifikasi tipe pernyataan yang akan dikode dan buka volume 3 alfabetikal indeks (kamus)Bila pernyataan adalah penyakit atau cidera atau kondisi lain yang terdapat pada Bab I – XXI vol. 1, lihat section I pada Index – vol. 3. Bila pernyataan adalah penyebab luar = external cause dari cedera atau kejadian lain yang terdapat pada Bab XX – vol. 1, lihat section II pada Index- vol. 3.
b. Lihat lead term. Untuk penyakit dan cidera : biasanya merupakan kata benda untuk kondisi patologis. Walaupun begitu, beberapa kondisi dikondisikan sebagai kata sifat (adjectives) atau eponym (menggunakan nama penemu) yang terdapat dalam indeks sebagai lead term.
c. Baca seksama dan ikuti petunjuk catatan yang muncul dibawah term.
d. Baca istilah yang terdapat dalam tanda kurung ”( )” sesudah lead term (kata tanda dalam kurung = modifier, itu tidak mempengaruhi nomor kode). Istilah lainnya yang dibawah lead term (dengan tanda minus = idem = indent) dapat mempengaruhi nomor kode, sehingga semua kata-kata diagnostik diperhitungkan).
e. Ikuti secara hati-hati setiap tunjuk silang (cross-references) dan lihat ”see” dan ”see also” yang terdapat dalam indeks.
f. Lihat tabulasi list ( vol. 1) untuk melihat nomor kode yang paling tepat. Lihat kode tiga karakter di indeks dengan tanda minus pada posisi keempat yang berarti bahwa isian untuk kode keempat itu adalah dalam volume 1 dan merupakan posisi karakter tambahan yang tidak ada dalam indeks (volume 3)
g. Ikuti pedoman ”inclusion” atau ”exclusion” pada kode yang dipilih atau dibagian bawah suatu bab (chapter), blok atau judul kategori.
h. Cantumkan kode yang dipilih.
(Depkes RI,1999)
Kunjungi juga :
Langganan:
Postingan (Atom)









