Tampilkan postingan dengan label ICD. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ICD. Tampilkan semua postingan
Kamis, 12 Oktober 2017
Cara Koding Diagnosa Suspek
05.20
Koding ICD kondisi suspect, gejala dan temuan abnormal dan situasi non-penyakit
Dalam periode perawatan rawat inap coder harus berhati-hati tentang mengklasifikasikan diagnosa utama untuk Bab XVIII danXXI. Jika diagnosis yang lebih spesifik belum ditentukan pada akhir episode rawat inap tinggal, atau jika benar-benar tidak ada penyakit atau cedera, maka kode dari Bab XVIII dan XXIdiperbolehkan untuk digunakan (lihat juga Aturan MB3 dan MB5, bagian 4.4.3 dalam manual ICD 10) . Kategori ini juga dapat digunakan untuk episode lain dalam kategori kontak denganpelayanan kesehatan.
Jika, setelah episode perawatan kesehatan, diagnosis utama masih dicatat sebagai suspected, atau masih dipertanyakan, dan tidak ada informasi lebih lanjut atau klarifikasi dari dokter yang terkait, yang diduga (suspected) diagnosis harus dikode.
Kategori Z03.- (Medical observation and evaluation for suspected diseases and conditions) observasi medis dan evaluasi untuk tersangka penyakit dan kondisi, berlaku untuk dugaan diagnosa yang dapat dikesampingkan setelah penyelidikan.
Berikut beberapa contoh kasusnya :
Diagnosis Utama : Suspected acute cholecystitis
Diagnosis Sekunder : —
Kesimpulan : Kode acute cholecystitis (K81.0) sebagai diagnosis utama.
Diagnosis Utama : Admitted for investigation of suspected malignant neoplasm of cervix - ruled out
Mengakui untuk penyelidikan dugaan neoplasma ganas serviks - dikesampingkan.
Kesimpulan : Kode observation for suspected malignant neoplasm (Z03.1) sebagai diagnosis utama.
Diagnosis Utama : Ruled out myocardial infarction
Diagnosis Sekunder : —
Kesimpulan : Kode observation for suspected myocardial infarction (Z03.4) sebagai diagnosis utama.
Diagnosis Utama : Severe epistaxis
Diagnosis Sekunder : —
Pasien di rumah sakit satu hari. Tidak ada prosedur atau investigasi dilaporkan
Kesimpulan : Kode untuk epistaksis (R04.0) sebagai diagnosis utama. Hal ini dapat diterima karena pasien jelasmengaku berurusan dengan darurat saja.
Ketentuan tersebut diatas berdasarkan ICD-10 Second Edition, 2005, 4. Rules and guidelines for mortality and morbidity coding.
Sekian, semoga bermangfangat.
Jika, setelah episode perawatan kesehatan, diagnosis utama masih dicatat sebagai suspected, atau masih dipertanyakan, dan tidak ada informasi lebih lanjut atau klarifikasi dari dokter yang terkait, yang diduga (suspected) diagnosis harus dikode.
Kategori Z03.- (Medical observation and evaluation for suspected diseases and conditions) observasi medis dan evaluasi untuk tersangka penyakit dan kondisi, berlaku untuk dugaan diagnosa yang dapat dikesampingkan setelah penyelidikan.
Berikut beberapa contoh kasusnya :
Diagnosis Utama : Suspected acute cholecystitis
Diagnosis Sekunder : —
Kesimpulan : Kode acute cholecystitis (K81.0) sebagai diagnosis utama.
Diagnosis Utama : Admitted for investigation of suspected malignant neoplasm of cervix - ruled out
Mengakui untuk penyelidikan dugaan neoplasma ganas serviks - dikesampingkan.
Kesimpulan : Kode observation for suspected malignant neoplasm (Z03.1) sebagai diagnosis utama.
Diagnosis Utama : Ruled out myocardial infarction
Diagnosis Sekunder : —
Kesimpulan : Kode observation for suspected myocardial infarction (Z03.4) sebagai diagnosis utama.
Diagnosis Utama : Severe epistaxis
Diagnosis Sekunder : —
Pasien di rumah sakit satu hari. Tidak ada prosedur atau investigasi dilaporkan
Kesimpulan : Kode untuk epistaksis (R04.0) sebagai diagnosis utama. Hal ini dapat diterima karena pasien jelasmengaku berurusan dengan darurat saja.
Ketentuan tersebut diatas berdasarkan ICD-10 Second Edition, 2005, 4. Rules and guidelines for mortality and morbidity coding.
Sekian, semoga bermangfangat.
sumber : hakayuci
Senin, 15 Mei 2017
Free Download ICD 10 Volume 2 Bahasa Indonesia
17.35
Terjemahan ICD 10 Volume 2 dari Dr. Erkadius,M.Sc.
Bersama APIKES IRIS
![]() |
| Daftar Isi Ebook ICD 10 Volume 2 Indonesia |
Tujuan ICD 10 Volume 2
ICD bertujuan untuk memudahkan pencatatan data mortalitas dan morbiditas, serta
analisis, interpretasi dan pembandingan sistematis data tersebut antara
berbagai wilayah dan jangka waktu.
ICD dipakai untuk mengubah diagnosis
penyakit dan masalah kesehatan lain menjadi kode alfa-numerik, sehingga
penyimpanan, pengambilan dan analisis data dapat dilakukan dengan mudah.
Di dalam praktek, ICD telah menjadi
klasifikasi diagnosis standard internasional untuk semua tujuan epidemiologi
umum dan berbagai tujuan manajemen kesehatan. Hal ini mencakup analisis situasi
kesehatan masyarakat, pemantauan insiden dan prevalensi penyakit dan masalah
kesehatan lain, dan hubungannya dengan variabel lain seperti ciri-ciri orang
yang terlibat dan situasi yang dihadapinya. ICD tidak dimaksudkan untuk
mengindeks entitas klinis yang lebih detil, atau aspek finansial seperti
penagihan dan alokasi sumber daya.
Walaupun ICD dirancang untuk klasifikasi semua
diagnosis resmi penyakit dan cedera, tidak semua masalah bisa dikategorikan
dengan cara ini.
Oleh karena itu ICD menyediakan tempat untuk gejala, tanda,
serta penemuan klinis dan laboratorium yang abnormal (Bab XVIII), dan
faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan dan kontak dengan asuhan kesehatan
(Bab XXI).
Jadi ICD bisa dipakai untuk mengklasifikasi data ‘diagnosis’,
‘alasan admisi’, ‘kondisi yang diobati’, dan ‘alasan konsultasi’, yang terdapat
pada berbagai catatan yang merupakan sumber statistik dan informasi kesehatan.
kesimpulannya Volume 2 dari ICD revisi 10 ini berisi pedoman
untuk mencatat dan mengode, bersama banyak material baru pada aspek praktis
penggunaan klasifikasi, di samping sebagai garis besar latar belakang sejarah
klasifikasi ini. Material ini disajikan sebagai volume terpisah untuk
memudahkan penanganan ketika rujukan perlu dibuat pada waktu yang bersamaan ke
klasifikasi (Volume 1) dan petunjuk penggunaannya (Volume 2). Petunjuk deail
tentang penggunaan Indeks Alfabet terdapat di dalam pengantar pada Volume 3.
Manual petunjuk ini menyediakan uraian dasar
ICD, bersama dengan petunjuk praktis untuk pengode mortalitas dan morbiditas,
dan pedoman untuk presentasi dan interpretasi data. Ini tidak dimaksudkan untuk
memberikan latihan deail dalam penggunaan ICD. Material yang dilibatkan disini
perlu diperkuat dengan latihan resmi yang memungkinkan praktek luas terhadap
contoh rekam medis dan pembahasan masalah.
Cara Download ICD 10 Volume 2
Untuk mendownloadnya silahkan klik DISINI .anda akan dihantarkan ke halaman mediafire seperti gambar di bawah lalu klik tombol download yaang berwarna hijau.
Senin, 02 Januari 2017
E-BOOK PDF Nosologia Methodica Sistens Morborum Classes
19.58
E-BOOK PDF Nosologia Methodica Sistens Morborum Classes
![]() |
Cover Nosologia Methodica Sistens Morborum Classes
|
Free download ebook format pdf ( sceen capture) from Boston Medical Association may 28 1889 with the title Nosologia Methodica Sistens Morborum Classes by Auctore Franscisco Boissier de Sauvages. This book have 762 pages.
Download here
Download here
Senin, 28 Maret 2016
Gratis download ICD 9 CM 2007 PDF lengkap
17.38
Gratis download ICD 9 CM 2007 PDF Lengkap
ICD 9 CM atau International Classification of Diseases,Ninth Revision,Clinical Modification , Adalah Daftar kode yang terkait dengan Diagnosa dan Prosedur yang tercatat dalam hubungan pelayanan kesehatan di rumah sakit terhadap pasien .kode -kode tersebut digunakan untuk tujuan Diagnostik , Penagihan dan Pelaporan,Informasi yang didapat mencakup symptoms,patient complaint atau keluhan , causes of injury penyebab cedera , dan mental disorders atau gangguan mental .
Dan anda bisa mendownload buku ICD 9 CM 2007 lengkap dalam bentuk PDF jadi untuk membuka buku ini di butuhkan aplikasi PDF reader anda bisa mendownloadnya yang saya sarankan adalah FOXIT READER karena lebih ringan. Saya gambarkan sedikit apa yang yang ada dalam buku ini.
Dan anda bisa mendownload buku ICD 9 CM 2007 lengkap dalam bentuk PDF jadi untuk membuka buku ini di butuhkan aplikasi PDF reader anda bisa mendownloadnya yang saya sarankan adalah FOXIT READER karena lebih ringan. Saya gambarkan sedikit apa yang yang ada dalam buku ini.
1. Judul : ICD-9-CM Classification of Procedures 2. Halaman : 458 halaman3. Versi : Ebook PDF di lengkapi navigasi Daftar isi ( sehingga anda tinggal klik daftar isi dan otomatis langsung menuju halaman yang diklik di daftar isi)
4. Isi : A. CONVENTIONS USED IN THE TABULAR LISTB. TABLE OF CONTENTSC. TABULAR LISTD. INDEX TO PROCEDURES
UNTUK DOWNLOAD KLIK TOMBOL DOWNLOAD DIBAWAH INI
Selasa, 22 Maret 2016
Free atau Gratis Download ICD 10 Edisi 2010 Volume 2
16.23
Free atau Gratis Download ICD 10 Edisi 2010 Volume 2
Silahkan download ICD 10 Tent Revision volume 2 2010 Edition Lengkap . File yang anda download ini dalam bentuk PDF. klik DISINI
Free atau Gratis Download ICD 10 Inggris - Indonesia xls
15.46
Free atau Gratis Download ICD 10 Inggris - Indonesia xls
Sobat bisa mendowload secara gratis ICD 10 dua bahasa yaitu Inggris dan Indonesia, ICD 10 ini di buat dalam tipe file xls atau file yang dapat di jalankan di Microsoft excel.ICD 10 ini hanya sekedar tabel indeks dari A-Z . Semoga bermanfaat.
Silahkan Download ICD 10 Inggris dan Indonesia DISINI
Senin, 27 April 2015
Istilah dan Petunjuk Pengkodean dalam menggunakan ICD
13.10
Istilah dan Petunjuk Pengkodean dalam menggunakan ICD
![]() |
| Pikesstikpan.blogspot.com- Istilah dan Petunjuk Pengkodean dalam menggunakan ICD |
Berikut ulasan Istilah dan petunjuk yang digunakan dalam pengkodean ICD
A. Istilah Pengkodean
a. Istilah “inclusion” (termasuk)
Dalam pokok bahasan pada tiga atau empat karakter seringkali ditemukan sejumlah istilah diagnostik lain yang disebut sebagai “inclusion term” (artinya, kira-kira: termasuk) dimaksudkan sebagai tambahan diagnostik yang dapat diklasifikasikan kedalam kelompok yang bersangkutan.
Istilah pada “inclusion” dapat juga dipakai untuk kondisi yang berbeda atau sinonimnya (sesuai dengan catatan pada “inclusion”) yang bukan subklasifikasi kelompok tersebut. Digunakan sebagai pedoman rubrik.
Contoh: A06 Amoebiasis includes infection due to Entamoeba hystoliticab. Istilah “exclusion” (tak termasuk)
Beberapa pokok bahasan tertentu berisi kondisi yang didahului dengan kata “exclusion”.Istilah ini menunjukkan kode di tempat lain, tidak di dalam kategori ini. Kode yang benar adalah yang diberi tanda dalam kurung yang mengikuti istilah itu.
Contoh: A09 Diarrhoea and gastroenteritis of presumed infectious origin
Excludes due to bacterial, protozoal, viral and other specified infectious agent ( A00 – A08)
c. Penjelasan kata istilah (Glossary)
Terdapat pada Bab V yaitu gangguan mental dan perilaku, menggunakan penjelasan glossary untuk menunjukkan isi rubrik ini. Hal ini digunakan karena terminologi gangguan mental sangat bervariasi, terutama perbedaan diantara negara, dari nama yang sama mungkin digunakan untuk menggambarkan kondisi yang agak berbeda. Glossary tidak dipergunakan untuk penggunaan membuat kode diagnosis, tetapi diperuntukkan sebagai petunjuk dokter klinik untuk mengisi rubrik.
d. Kode rangkap: Sistem Dagger (sangkur) dan Asteris (bintang)
Sistem kode rangkap dari kombinasi kode melalui tambahan tanda sangkur (†) dan tanda bintang (*) telah digunakan pada ICD-10. Jadi membolehkan penjelasan kondisi dalam istilah yang mendasari penyebab atau etiologi (†) dan manifestasi (*). Kode primer untuk penyakit yang mendasari penyebab ditandai dengan tanda sangkur (†). Kode untuk manifestasi ditandai dengan tanda bintang (*).
Prinsip dasar ICD adalah kode sangkur yaitu kode primer dan harus selalu digunakan untuk kondisi tunggal. Kode bintang tidak pernah digunakan sendirian.
Ada 83 kategori tanda bintang dalam ICD-10 yang mungkin digunakan dalam hubungannya dengan kode sangkur, tetapi tidak digunakan sendirian. Kategori bintang terdapat pada permulaan setiap bab, blok, dan rubrik yang sesuai.
e. Tanda kurung/ parentesis ( )
Tanda kurung digunakan dalam jilid 1 dalam empat cara:1) Untuk menyertakan kata-kata tambahan, yang akan mengikuti istilah diagnostik tanpa mempengaruhi angka kode yang dirujuk oleh kata di luar kurung.
Contoh : G 11.1 Early – onset cerebellar attaxia
Friedrich’s attaxia (autosomal recessive)
2) Untuk menyertakan kode yang dimaksud dalam istilah “exclusion”
Contoh: A04 Other bacterial intestinal infection
Excludes: Foodborne intoxication, bacterial (A05.-)
3) Untuk menyertakan kode tiga karakter dari kategori dalam blok tertentu
Contoh: Intestinal Infectious diseases (A00 – A09)
4) Untuk menyertakan kode sangkur dalam kategori bintang atau kode bintang dalam istilah sangkur
Contoh: A02. 2 Localized salmonella infections
Salmonella:
Arthritis (M01.3*)
f. Kurung besar / square brackets [ ]
Kurung besar digunakan:1) Untuk menyertakan sinonim, kata-kata alternatif atau kalimat penjelasan.
Contoh : A07.1 Giardiasis [lambiasis]
2) Untuk merujuk pada catatan
Contoh: C21.8 Overlapping lesion of rectum, anus and anal canal
[lihat note 5 pada halaman 182 pada ICD-10 Volume 1]
3) Untuk merujuk ke kelompok subdivisi karakter keempat yang dinyatakan sebelumnya.
Contoh : F10.- Mental and behavioral disorders due to use of alkohol
[lihat hal. 321-323 untuk subdivision pada ICD-10 Volume 1]
g. Titik dua/ colon (:)
Titik dua digunakan dalam daftar istilah inclusion dan exclusion, jika kata yang mendahului tidak lengkap penetapan istilahnya dalam rubric.
Contoh: A06.8 Amoebic infection of other sitesAmoebic:
• Appendicitis
• Balantis† (N51. 2*)
h. Brace { }
Tanda kurung besar digunakan dalam istilah inclusion dan exclusion untuk menunjukkan bahwa baik kata terdahulu maupun kata sesudahnya adalah istilah lengkap. Sembarang istilah dibelakang tanda kurung besar, seharusnya dikualifikasi oleh satu atau lebih istilah yang mengikutinya.
Contoh : A09 Diarrhoea and gastroenteritis of presumed infectious originCatarrh, enteric or intestinal
• Colitis NOS
• Enteritis haemorrhagic
• Gastroenteritis septic
i. NOS (yang tak ditentukan)
NOS adalah singkatan dari “Not Otherwise Specified” artinya “tidak dispesifikasikan” atau ”tidak dikualifikasikan”
Pemberi kode sebaiknya berhati-hati untuk memberi kode suatu istilah tidak dikualifikasikan kalau informasi yang disediakan tidak begitu jelas.
Contoh: A03.9 Shigellosis, unspesifiedBacillary dysentery NOS
j. Not Elsewhere Classified
NEC adalah singkatan dari “Not Elsewhere Classified”
Apabila digunakan judul pada kategori tiga karakter, NEC merupakan sebagai peringatan bahwa beberapa jenis tertentu dari kondisi yang tercantum dalam rubrik tersebut, bisa saja tercantum pada klasifikasi lain.
Contoh : K73 Chronic hepatitis, not elsewhere classifiedk. Pemakaian “and” dalam judul
Pada ICD-10 “dan” berarti “dan/atau”Contoh: S49.9 Unspecified injury of shoulder and upper arm
Berarti cedera yang tak dispesifikasikan dari bahu atau cidera lengan atas yang tak dispesifikasikan atau cidera yang tak dispesifikasikan dari bahu dan lengan atas.
l. Titik strip/ point dash (.-)
Digunakan sebagai pengganti karakter keempat dari satu kategori, titik strip (.-) menunjukkan pada pemberi kode bahwa ada satu karakter keempat dan sebaiknya dicari dalam kategori yang cocok pada daftar tabulasi.
Contoh : A06 Amoebiasis
Excludes other protozoal intestinal diseases (A07.-)
B. Petunjuk Dasar Pengkodean
Sebelum melaksanakan pengkodean, pelaksana kode harus memahami terlebih dahulu prinsip klasifikasi dan pengkodean serta pernah mendapat latihan praktis. Berikut petunjuk sederhana dalam pengkodean:
a. Identifikasi tipe pernyataan yang akan dikode dan buka volume 3 alfabetikal indeks (kamus)Bila pernyataan adalah penyakit atau cidera atau kondisi lain yang terdapat pada Bab I – XXI vol. 1, lihat section I pada Index – vol. 3. Bila pernyataan adalah penyebab luar = external cause dari cedera atau kejadian lain yang terdapat pada Bab XX – vol. 1, lihat section II pada Index- vol. 3.
b. Lihat lead term. Untuk penyakit dan cidera : biasanya merupakan kata benda untuk kondisi patologis. Walaupun begitu, beberapa kondisi dikondisikan sebagai kata sifat (adjectives) atau eponym (menggunakan nama penemu) yang terdapat dalam indeks sebagai lead term.
c. Baca seksama dan ikuti petunjuk catatan yang muncul dibawah term.
d. Baca istilah yang terdapat dalam tanda kurung ”( )” sesudah lead term (kata tanda dalam kurung = modifier, itu tidak mempengaruhi nomor kode). Istilah lainnya yang dibawah lead term (dengan tanda minus = idem = indent) dapat mempengaruhi nomor kode, sehingga semua kata-kata diagnostik diperhitungkan).
e. Ikuti secara hati-hati setiap tunjuk silang (cross-references) dan lihat ”see” dan ”see also” yang terdapat dalam indeks.
f. Lihat tabulasi list ( vol. 1) untuk melihat nomor kode yang paling tepat. Lihat kode tiga karakter di indeks dengan tanda minus pada posisi keempat yang berarti bahwa isian untuk kode keempat itu adalah dalam volume 1 dan merupakan posisi karakter tambahan yang tidak ada dalam indeks (volume 3)
g. Ikuti pedoman ”inclusion” atau ”exclusion” pada kode yang dipilih atau dibagian bawah suatu bab (chapter), blok atau judul kategori.
h. Cantumkan kode yang dipilih.
(Depkes RI,1999)
Kunjungi juga :
Kamis, 09 Oktober 2014
Dasar-dasar menguasai koding
16.29
Beberapa hal yang perlu di ketahui sebelum mengkoding penyakit
Pendahuluan
![]() |
| ICD 10 CM |
Seorang pengkoder
dibutuhkan keahlian dan wawasan dalam pengkodean penyakit,kesalahan
pengkodean harus bisa dicegah seminimal mungkin selain karena dapat menyebabkan
kerugian pada instansi rumah sakit,juga karena akibat dari kesalahan pengkodean
dapat menyebabkan kerugian bagi pasien dan petugas medis yang terkait.Dalam
artikel ini akan di jabarkan dasar-dasar menguasai koding yaitu sebagai berikut
:
1. Dasar dan Syarat UMUM tata cara mengkoding penyakit :
1.1 Memahami Penggunaan ICD 10
Seorang koder tak akan terlepas dari
namanya ICD dimana ICD akan menjadi
sahabat dekat sang koder dalam melakukan tugasnya,selain memahami penggunaan
ICD seorang koder juga harus mengikuti perkembangan ICD dari hari kehari,karena ICD terus berkembang
sesuai dengan perkembangan ilmu kedokteran.
1.2 Kualifikasi Pendidikan
Seorang koder minimal D3 Rekam
Medis,jikalau sebuah instansi kekurangan tenaga kualifikasi rekam medis,maka alternatife
harus dari kualifikasi pendidikan kesehatan yang memiliki pengalaman koding,dan
pernah terlibat dalam pelatihan resmi koding dan penggunaan ICD.
1.3 Wawasaan Terminologi Medis.
Seorang koder tentu terlibat dengan berbagai
istilah penyakit yang ada pada berkas rekam medis,akurasi diagnosa seorang
dokter akan lebih valid bila seorang koder mampu mentranformasinya ke kode yang
sesuai ,jadi seorang koder setidaknya harus memiliki wawasan terminology medis
dan terminology penyakit.
2. Syarat Khusus tata cara mengkoding penyakit :
1. Pemahaman Struktur ICD 10 yang terdiri dari ICD
10 Volume 1 dan Volume 3 dan menguasai guideline dari ICD 10 Volume 2.
2.
Memahami runtutan cara mencari kode penyakit
yang di perlukan .
2.1
Baca dan pelajari isi buku manual/pedoman koding
ICD10 volume 2 : dimana dalam volume 2 terdapat petunjuk penggunaan ICD 10 vol
1 dan 3.
2.2
Dalam ICD 10 vol 2 terdapat penjelasan ICD 10
Volume 1 atau tabular list antara lain :
a.
Istilah Inklusi ( how to use inclusion terms )
b.
Istilah Eksklusi ( how to use exclusion terms )
c.
Glosari Deskripsi ( how to use Glossary
Descriptions)
d.
Konvensi kode petunjuk spesifik kode/kode dagger
dan asterisk ( how to use the “dagger (†)
dan asterisk (*)) kode ini disebut two code for certain conditions
e.
Pilihan Lain untuk kode tambahan ( how to use
other optional dual coding ) dimana kode-kode tambahan selain asterisk dan
dagger digunakan pada bab-bab khusus.
f.
Kode dalam kurung ( ) ( how to use Parentheses )
g.
Kode tanda kurung persegi [] ( how to use square
brackets )
h.
Penggunaan kolon “:” /titik 2 ( how to use colon
) colon ini untuk memperjelas sebuah
istilah yang membutuhkan kata tambahan
yang digunakan untuk melengkapi istilah tersebut ,apakah termaksud atau tidak
termaksud sehingga dengan tambahan kata lain yang merujuk ke istilah ,maka
istilah yang di dapat itu bisa lebih
spesifik sesuai diagnose ,misalnya kode
k36 tentang appenditics : maka ada petunjuk other appenditics dengan di
bawahnya terdapat daftar kata/istilah tambahan – cronic appenditics – recurrent
appenditics.
i.
Kode kurawal “}” ( how to use brace } ).
j.
NEC / Not Other Classified ( how to use NEC )
k.
NOS /Not Otherwise Spesified ( how to use NOS)
l.
DaN / “AND” ( how to use AND in Title )
m.
Poin Dash “-“ ( how to use Point Dash )
n.
Kode batasan untuk jenis kelamin ( How to use
categories limited one sex )
o.
Kategori
kode Squel ( how to use sequelae
categories )
p.
How to use postprocedural disorders
2.3
Cara pengunaan ICD 10 Volume 3 ( how to use icd
10 volume 3 or Alphabetical Index )
a.
Cara menggunakan Struktur ( how to use structure
)
b.
Cara menggunakan kode number ( how to use code
numbers)
c.
Cara menggunakan istilah konvensi ( how to use
conventions )
d.
Cara menggunakan tanda kurung ( sama dengan icd
10 volume 1)
e.
Cara menggunakan NEC ( how to use NEC )
f.
Cara menggunakan rujukan silang ( how to use cross-references )
2.4
Dasar Paduan Koding.
Aturan dan tata cara kode mortalitas dan
morbiditas ( mortality and morbidity coding )
Wawasan penentuan Lead Term ,seorang koder harus
memahami lead term setiap istilah penyakit.
Kontrol setiap pengkodean apakah sudah sesuai
dengan diagnose,yang tentunya seorang koder tidak melewatkan semua petunjuk
yang ada pada point 2 di atas.
kunjungi juga artikel : Istilah Petunjuk pengkodean ICD
Sumber :
-
who ICD 10 2005
-
Buku Panduan Penentuan kode penyakit penyebab
kematian menurut icd 10 ,Depkes ,WHO , juni 2008
-
ICD 10 Volume 2,Intruction Manual ,WHO 2005
Langganan:
Postingan (Atom)








